Ketika
bel pulang sekolah berbunyi, semua siswa langsung keluar kelas menuju tempat
tujuannya masing-masing, ada yang langsung menuju gerbang, mengobrol bersama
teman di taman sekolah, atau pun yang melakukan kegiatan ekstrakurikuler, tapi
tidak dengan Diana dan Nathan. Mereka dihukum membersikan kelas setiap pulang
sekolah selama 2 minggu. Alasannya sepele. Pada saat jam praktek Kimia, mereka
bertengkar dan tidak sengaja merusak beberapa peralatan laboratorium.
Hari
ini hari ketiga Diana dihukum bersama Nathan. Diana menyapu lantai kelasnya
sambil mengoceh. Mimpi apa ia dihukum bersama teman sekelasnya yang menurutnya
menyebalkan itu. Nathan boleh dibilang rival Diana di segala bidang, mulai dari
bidang akademis, olahraga, sampai seni. Nathan tidak akan membiarkan Diana
unggul di bidang-bidang itu. Pokoknya tiada hari tanpa pertengkaran di antara
mereka. Tapi ada satu bidang yang tidak dikuasai Nathan, yakni di bidang
sastra. Entah kenapa, Nathan selalu menghilang saat jam pelajaran itu.
Diana
duduk di kursi sambil menghela nafas. Mulutnya tidak berhenti mengoceh
menyadari Nathan yang tidak kunjung datang, padahal tadi ia hanya bilang akan
mengambil air untuk mengepel lantai. “Ke mana sih Nathan? Ngambil air saja
lamanya seabad. Apa tidak bisa orang itu sekali saja tidak menyebalkan?” Omel
Diana.
Di
tengah kemurkaanya Diana melihat sebuah buku tergeletak begitu saja di lantai.
Karena penasaran, ia mengambil dan membukanya selembar demi selembar. Ternyata
buku itu berisi kumpulan puisi dengan tulisan tangan. Tapi anehnya tidak ada
identitas pemiliknya dan lebih aneh lagi setiap puisi yang tertulis di sana
tidak berjudul. Karena masih penasaran Ia membaca halaman pertama.
Bagai si bodoh yang datang ke negeri tak dikenal
Bagai si bodoh yang kebingungan
Aku berjalan tak tentu arah
Tak tau mana yang harus ditempuh
Bagai si bodoh yang hanya tau dingin dan hangat
Bagai si bodoh yang hanya tau kasar dan lembut
Aku berjalan mengikuti arah angin
Tak tau ternyata arahnya kelak akan berubah
Tapi kemudian aku merasakannya,
Di negeri tak dikenal ini
Aku menemukan jejak yang hangat dan lembut
Saking hangat dan lembutnya tak terasa aku mengikutinya
Tak menyesal aku mengikutinya
Karena ternyata jejak itu menciptakan sebuah kebahagian
Tak menyesal pula aku jadi si bodoh
Karena mungkin jejak itu hanya diciptakan untuk si bodoh
J.H.
“Keren!
Aku bisa merasakannya..” Diana berdecak kagum. Belum puas, Diana membuka lembar
selanjutnya.
Taukah kamu, hatiku menangis
Rasanya seperti ingin mati
Biarlah hati ini ikut mati
Hingga tak bisa menangis lagi
Taukah kamu, hatiku terluka
Rasanya seperti ingin terjun ke lautan Pasifik
Biarlah hati ini membeku
Hingga tak bisa merasakan luka lagi
Inilah aku..
Hatiku telah mati dan beku
Tinggalkan aku..
Hatiku tidak ingin menangis dan terluka lagi
J.H.
Kali ini Diana menitikkan air mata setelah membaca tulisan di sebuah buku
bersampul biru itu. Siapa pun yang membuat puisi-puisi itu pasti punya jiwa sastra
yang kuat, terka Diana.
“J.H. itu nama penulisnya kah? Tapi tunggu sebentar, J.H.? J.H…. Jonathan
Hairil? Ah, tapi tidak mungkin.” pikir Diana tiba-tiba ketika melihat tulisan
J.H. di akhir puisi-puisi itu.
“Hey! Sedang apa kamu?” Tanya Nathan yang datang sambil membawa seember air.
Diana terdiam. Nathan melirik buku di tangan Diana, reflek ia merampas buku
itu.
“Apa-apaan kamu mengambil barang punya orang lain?” marah Nathan. Diana menatap
Nathan tajam.
“Siapa yang ngambil? Buku itu aku temukan di lantai. Kalau aku tau itu bukumu,
pasti gak akan ku sentuh.” Diana tak kalah marah.
“Tapi kamu gak lihat apa-apa kan?”
“Engga, apa yang akan aku lihat dari buku seperti itu?” bohong Diana. Bagaimana
bisa ia jujur saat Nathan marah besar seperti itu.
“Awas saja kalau kamu seenaknya menyentuh barang milikku lagi.”
“Apa sih maumu? Sudah ku bilang aku tidak tau itu punyamu. Lagian kamu yang gak
hati-hati, kenapa aku yang disalahkan?”
“Sudahlah..” Nathan menghela nafas. “Kalau kita bertengkar terus kapan mau
selesainya? Tahun depan?”
“Siapa yang mulai duluan?” Diana masih kesal.
“Sudah, kali ini aku yang salah. Kamu tidak usah kesal begitu. Aku mau selesaikan
ini.” Ucap Nathan kalem sambil mulai mengepel lantai. Diana tertegun, ia merasa
sikap Nathan agak berbeda, tidak semenyebalkan biasanya.
“Mmm.. Kalau begitu aku mau pinjam pel dulu. Pel di sini kan cuman ada satu.”
Diana sudah mulai mendingin. Belum sempat melangkahkan kaki, Nathan bersuara
lagi. “Tidak perlu, aku selesaikan ini sendiri. Kamu pulang saja duluan..”
Katanya dingin. Kali ini Diana benar-benar kaget, bagaimana bisa Nathan menjadi
baik secara tiba-tiba.
“Benar nih?” Tanya Diana dengan nada menggoda.
“Kalau tidak mau, pel saja ini semua sendirian. Aku akan pergi.”
“Loh.. Loh.. Mana bisa begitu? Baik, baik. Aku akan duduk manis di sini dan
menontonmu mengepel lantai.” Ucap Diana sambil tersenyum manis. Nathan melirik
tajam. “Aku menyuruhmu untuk pulang. Bukan duduk di sana.”
“Hei,
aku tidak mau menjadi setan yang melarikan diri dan membiarkanmu menjadi
malaikat sendirian. Kamu pikir aku bodoh? Bisa-bisa hukumanku ditambah kalau
ketauan pulang duluan.”
“Terserahlah,
tapi jangan menggangguku. Dan dengarkan baik-baik.. Ini bukan berarti aku baik
padamu, aku hanya tidak ingin bekerja sama dengan orang merepotkan sepertimu.”
Ucap Nathan. JLEB! Begitu kira-kira kalimat itu menusuk perasaan Diana.
Sepertinya pikirannya tentang Nathan menjadi baik dan tidak menyebalkan lagi
hanya akan menjadi mimpi.
“Baiklah,
baik.. Terserah apa katamu. Mengepel saja yang benar..” oceh Diana.
Sampai
20 menit kemudian keadaan hening. Nathan sudah hampir selesai dan Diana
benar-benar tidak mengganggunya bahkan tidak dengan suara hentakkan sepatu
sekali pun. Tiba-tiba Diana teringat buku bersampul biru itu. Ia berpikir, jika
buku itu memang milik Nathan dan puisi-puisi itu juga ditulis olehnya mengapa
di pelajaran sastra ia selalu tidak serius, bukankah dengan jiwa sastra tingkat
tinggi seperti itu seharusnya dia menyukainya. Otak Diana penuh dengan
pertanyaan-pertanyaan tentang Nathan dan buku itu.
“Aku
sudah selesai. Kamu tidak akan pulang?” suara Nathan memecah lamunan Diana,
ternyata Nathan sudah berdiri di depan pintu.
“Eh
iya!” Diana melangkahkan kaki keluar kelas mengikuti langkah Nathan.
Sekolah
sudah sepi. Diana dan Nathan hampir sampai di depan gerbang. Nathan berjalan di
depan, tubuh Nathan yang tingginya hampir 180cm itu memungkinnya berjalan lebih
cepat dibanding Diana yang hanya seorang siswi dengan tinggi standar sekitar
160-an.
“Hey,
tunggu dong! Kakimu kan panjang, bisa tidak jangan jalan cepat-cepat?!” teriak
Diana. Nathan menghentikan langkahnya tepat di depan gerbang. Diana berlari dan
berhenti di samping Nathan sambil mengatur nafas.
“Siapa
yang suruh kamu mengikutiku?” oceh Nathan.
“Siapa
yang mengikutimu? Pintu gerbang di sekolah ini kan cuman ada satu.” Tangkis
Diana. Nathan menatap Diana, “Loh, bukannya tadi kamu memintaku untuk
menunggumu? Itu artinya kamu mengikutiku kan?”
“Emm..
Itu.. Engga kenapa-kenapa. Aku hanya takut, sekolah ini kalau sepi menyeramkan.
Tapi ternyata makhluk sepertimu lebih menyeramkan.” Diana mulai bergidik.
Nathan tersenyum kecut. “Kamu itu seperti anak kecil saja.” Ucap Nathan lantas
melangkahkan kaki meninggalkan Diana.
“Eh..
Eh.. Mau ke mana kamu?” reflek Diana.
Nathan
berbalik. “Aku mau mengambil motorku dan pergi. Kenapa? Katanya kamu takut
denganku? Apa kamu benar-benar penakut? Harus ya aku temani?”
“Apa
yang kamu bicarakan? Hanya.. Bagaimana bisa kamu menginggalkan seorang siswi
sendirian?” Diana mencoba mencari alasan karena kereflekannya itu, sebenarnya
ia benar-benar takut berada di tempat sepi.
“Kamu
benar-benar takut kan?” Tanya Nathan. Ternyata raut wajah Diana benar-benar
dapat dengan mudah dibaca.
Diana
mendadak gugup, “Si.. Siapa bilang aku takut? Tidak kok. Apa yang perlu
ditakutkan?” .
“Baiklah,
kalau kamu tidak takut aku akan meninggalkanmu di sini. Tapi aku dengar ada hantu
penunggu sekolah yang sering muncul ketika sekolah sudah sepi. Ya.. Kira-kira
sekitar jam segini hantu itu biasa muncul.” Nathan tertawa jail sambil melihat
jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah 6 sore.
“Oke,
aku memang takut. Jadi, tolong antar aku ya?” Diana menyerah.
Nathan
sok berpikir. “Mmmm.. Bagaimana ya? Tunggu.. aku ingat-ingat dulu jadwalku.”
Diana
cemberut, walaupun ia merasa kesal tapi ini benar-benar mendesak. “Please.. Kali
ini saja masa gak bisa?”
“Okay,
tapi aku hanya bisa menemanimu sampai halte saja. Aku harus pergi ke suatu
tempat.” Balas Nathan. Diana tersenyum.
Nathan dan Diana sampai di halte bus terdekat.
“Sudah
ya, aku harus pergi.” Nathan bersiap melajukan motornya. Tapi Diana
mencegahnya, “Sekali lagi saja, tolong temani aku sampai aku mendapatkan bus.
Yah? Bagaimana kalau nanti ada yang menculikku?”
“Memang
siapa yang akan menculik seseorang merepotkan sepertimu hah?”
“Sekali
lagi Nathan, sekali lagi… Ini jarang sekali aku lakukan, tapi aku mohon.”
“Ahhh,
aku tidak menyangka rivalku begitu penakut.” Nathan tertawa kecut. Mau tidak
mau Diana harus menerima apa yang dikatakan Nathan, karena pada kenyataanya ia
memang penakut. Akhirnya Nathan menemani Diana di halte bus.
10
menit berlalu tidak kunjung satu bus pun yang datang. Diana teringat lagi
tentang buku itu, ia rasa ini waktu yang tepat untuk menanyakannya pada Nathan
karena rasa penasarannya mulai memuncak.
“Nathan,
boleh aku bertanya sesuatu?”
“Apa?”
“Buku
itu… Tentang buku yang tadi.” Ucap Diana gugup takut-takut Nathan akan ngamuk.
“Kamu
tidak melihat apa pun kan?”
“Tapi..
tadi aku..”
“Nah!
Itu busnya! Cepat naik!” tunjuk Nathan sambil mendorong Diana masuk ke dalam
bus. Akhirnya Diana pulang dengan kepala masih dipenuhi pertanyaan-pertanyaan
mengenai buku itu. Nathan menghela nafas.
***
Bel
berbunyi tanda masuk kelas. Diana yang ternyata baru datang lantas duduk di
kursinya sambil mengatur nafas. Faktor penyebab Diana terlambat sebenarnya
sepele, bukan karena jalanan macet atau pun mobil yang ditumpanginya mogok tapi
karena memang di rumahnya hanya ada satu kamar mandi sedangkan penghuninya
lumayan banyak, terjadilah budaya antre dan kali ini Diana mendapat giliran
terakhir. Diana baru menyadari bahwa kursi di depannya kosong, hanya ada sebuah
tas tanpa sang pemilik. “Ke mana Nathan?” batin Diana.
Beberapa
saat kemudian, Pak Kris masuk ke kelas. Pak Kris adalah salah satu guru sastra
Indonesia di sekolah. Ia adalah salah satu guru yang sangat dekat dengan
muridnya. Oh iya, sekarang kan pelajaran sastra, pantas saja Nathan menghilang,
batin Diana.
Di tengah pelajaran Diana mengangkat tangan, “Pak, maaf. Saya ingin ke toilet.”
Ujarnya. “Oh iya, silahkan Diana.” Sahut Pak Kris. Diana langsung berlari
menuju toilet. Sebenarnya sejak bel tadi Diana sudah merasakan ingin ke toilet,
biasanya Diana hanya ke toilet pada saat jam istirahat karena tidak ingin
ketinggalan materi tapi kali ini ia merasa tidak bisa menahannya lagi bahkan 1
menit pun.
“Huh! Lega..” ujar Diana selepas keluar dari toilet. Tapi kemudian ia melihat
seseorang yang sedang duduk santai di kursi taman belakang sekolah. Satu nama
yang terbersit di pikiran Diana. “Nathan?” batinnya.
Karena penasaran, Diana mendekati orang itu. Orang itu sedang menulis di sebuah
buku. Dan Diana memastikan bahwa orang itu memang Nathan setelah melihat wajah
juteknya dari samping. “Jadi selama ini dia kabur ke sini toh..” pikir Diana.
Diana duduk di samping Nathan, “Jadi ini tempat persembunyianmu?” Tanya Diana
memasang tampang hansip yang nangkep basah maling. Nathan menutup bukunya pelan
lantas melirik tajam ke arah Diana. “Sedang apa kamu di sini?” ujarnya dingin,
ternyata jauh dari perkiraan Diana, ekspresi Nathan tidak seperti maling yang
tertangkap basah.
“Harusnya aku yang bertanya, sedang apa kamu di sini?” Tanya Diana lagi.
“Bukan urusanmu.” Jawab Nathan pendek.
Diana mulai terpancing. “Bisa tidak kamu menjawab dengan bahasa yang sedikit
halus?”
“Tidak.” Lagi-lagi jawaban pendek yang keluar dari mulut Nathan. Diana menarik
nafas panjang mencoba meredam emosinya. “Aku bertanya baik-baik ya, sedang apa
kamu di sini Nathan? Bukankah seharusnya kamu ada di kelas?” tanyanya kemudian.
Nathan menatap langit, “Sudah ku bilang itu bukan urusanmu.” Ujarnya kemudian.
Diana cemberut. “Aku hanya penasaran. Sedang apa kamu di sini?”
Nathan
terdiam. Diana makin penasaran. “Mengapa kamu selalu absen saat pelajaran
sastra? Dan mengenai buku itu, mengapa kamu mempunyai buku itu? Mengapa?
Bukankah kamu tidak menguasai sastra?” pertanyaan Diana tak habis.
“Hentikan!” bentak Nathan sambil menatap Diana.
“A..ada apa denganmu? Kamu menakutiku. Y..ya sudah, kalau aku salah bicara
maafkan aku.” Diana agak gugup, pasalnya hal yang paling ditakutkan Diana
adalah pada saat Nathan marah.
“Tolong
hentikan sifatmu yang suka mencampuri urusan orang lain itu!” lanjut Nathan.
Diana menunduk dan tak berani mengeluarkan suara lagi, Nathan pun terdiam,
akhirnya keadaan hening seketika.
Nathan menoleh ke arah Diana, “Maaf.” Ucap Nathan memecah kesunyian. “Hah? Apa
katamu?” Diana menoleh kaget. Diana menebak bahwa pendengarannya sedang tidak
beres.
“Maaf. Aku sudah membentakmu.” Ucap Nathan lagi. Diana tersenyum kaku. Ada apa
dengan otak anak ini? Batin Diana.
“Hey hey, aku sudah biasa dibentak olehmu. Ada apa denganmu? Kepalamu tidak
terbentur kan?” Tanya Diana dengan tampang heran.
“Menurutmu?” Tanya Nathan balik, Diana menaikkan kedua bahunya tanda tidak tau.
Nathan tersenyum.
“Tentang jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu tadi, apa kamu ingin tau?” Tanya
Nathan. Diana memandang heran, “Walau pun aku ingin mengetahuinya, bukankah
kamu melarangku untuk mencampuri urusan orang lain lagi?”
Nathan tersenyum lagi. “Padahal aku berniat memberitaukannya sekarang.”
“Kalau begitu cepat beri tau aku!” Ujar Diana tidak sabar. Nathan berdiri. “Ayo
kita ke kelas!” Ujarnya sambil melangkahkan kaki. Diana makin heran lantas
mengikuti langkah Nathan tanpa berkomentar satu kata pun.
***
Nathan dan Diana memasuki kelas. Semua mata tertuju pada mereka termasuk Pak
Kris yang kelihatan paling kaget. “Maaf Pak. Saya….” ucap Diana tidak sempat
meneruskan kata-katanya karena Nathan langsung menariknya menuju kursi. “Duduk
di sana yang manis!” ucap Nathan. Keheranan Diana tidak juga reda.
Diana masih tidak enak dengan keadaan kelas, ia masih berusaha untuk berbicara
dengan Pak Kris, “Pak.. Saya benar-benar minta maaf karena terlambat. Ini
karena…”
“Tidak apa-apa.. Saya mengerti.” Ucap Pak Kris memotong ucapan Diana, Diana
tersenyum.
Akhirnya
pelajaran dilanjutkan, ini pelajaran sastra pertama yang diikuti Diana bersama
Nathan. Tapi Diana merasa ada yang aneh dengan Pak Kris. Tidak seperti biasanya
cara mengajarnya jadi agak kaku semenjak Diana dan Nathan datang tadi. “Tapi
sebelumnya Pak Kris tidak pernah seperti ini, apa ini karena….” Diana memandang
orang di depannya. “Ah, mungkin hanya perasaanku saja.”
“Baik,
sekarang giliran kuis!” ucap Pak Kris. Memang di akhir jam pelajarannya, Pak
Kris selalu memberikan kuis, ini lebih menyangkut pengetahuan umum tapi yang
pasti tidak jauh-jauh dari yang namanya bahasa.
“Siapa
yang tau, dari mana asal usul kata picisan pada roman picisan?”
lanjut Pak Kris. Semua siswa terdiam tanda berpikir. Diana pun tidak kunjung
menemukan jawabannya. Beberapa saat kemudian orang di depan Diana mengangkat
tangan, ya, siapa lagi kalau bukan Nathan.
“Y..ya.
Silahkan Nathan.” Kata Pak Kris gugup. Diana makin merasa ada keanehan di
antara Pak Kris dan Nathan.
“Kata
picisan berasal dari kata picis yaitu salah satu mata uang koin dengan
nilai 10 sen pada zamannya. Sebagai ilustrasi, pada tahun 1625, harga seekor
ayam di Indonesia adalah kurang lebih 1000 picis. Jadi, 1 picis di zaman itu
pun sangat rendah nilainya. Maka dari itu, buku atau roman yang harganya murah
dan isinya juga bisa dibilang tidak berkualitas sering disebut sebagai roman
picisan.” Jelas Nathan panjang lebar diikuti tepuk tangan seisi kelas.
Mereka semua dibuat kaget, ternyata Nathan yang selama ini sering absen di
pelajaran ini tau tentang hal seperti itu.
Diana
terlihat paling kaget, “Apakah ini jawabanmu Nathan?” batin Diana sambil
memandang punggung Nathan.
“Ya,
jawabanmu tepat sekali Nathan.” Ucap Pak Kris. “Baiklah anak-anak, sekian
pelajaran kali ini. Selamat pagi.” Pak Kris melangkahkan kakinya keluar kelas.
***
“Akhirnya
hari terakhir…..!!!!!” Diana teriak-teriak saat bel pulang dibunyikan. Nathan
menoleh sambil memasang tampang jutek, keliatannya Nathan menyadari bahwa hari
yang dibicarakan Diana adalah hari terakhir mereka dihukum bersama. Diana
terkekeh.
“Bisakah
kamu tidak menjadi orang yang berisik?” Tanya Nathan iseng. Seakan disihir,
Diana tidak menanggapi pertanyaan Nathan yang memang tidak penting itu dan
langsung mulai membersihkan kelas. “Ayo Nathan, kita bersihkan kelas ini
sebersih-bersihnya!” ajaknya. Nathan memandang heran.
Tidak
disangka selama operasi kebersihan yang dilakukan mereka berdua, keadaan
hening, sama sekali tidak ada pembicaraan. Diana yang biasanya cerewet pun jadi
pendiam.
Nathan
menjatuhkan pel yang dipegangnya. Diana menoleh kaget. “Bilang padaku, apa yang
ingin kamu ketahui?” Tanya Nathan kemudian. Tanpa bicara, Diana menghampiri
Nathan.
“Benarkah?
Kali ini apa kamu benar-benar akan menjawabnya?” Tanya Diana. Nathan mengangguk
pelan. Diana tersenyum penuh kemenangan, akhirnya Nathan menyerah juga.
***
Matahari mulai bersembunyi, Diana dan Nathan masih berada di taman kota,
tentunya untuk membicarakan semua yang membuat Diana penasaran.
“Apa?” Nathan memulai pembicaraan.
Diana mulai mengintrogasi Nathan bak seorang detektif. “Aku mulai dari yang
membuatku paling penasaran. Buku biru itu, apa buku itu benar-benar milikmu?”
“Kamu benar-benar melihatnya ya? Sudah kuduga.” Komentar Nathan. Diana melotot
tanda meminta jawaban.
“Baiklah, baik. Buku itu memang milikku tapi bukan hanya milikku. Masih ada
pemilik lain.” Jelas Nathan. “Siapa?” tanggap Diana cepat.
Nathan menatap langit yang mulai berwarna kejingga-jinggaan. “Ayahku.” Jawabnya
kemudian.
“A.. ayahmu? Tapi puisi-puisi itu adalah ciptaanmu kan?”
“Bukan.”
“Tapi, di semua puisi itu tertulis J.H., kalau aku tidak salah itu inisial
namamu kan?”
“Eh? Jadi kamu sampai-sampai memperhatikan itu ya? Sampai segitu penasarannya
kamu.” Nathan terkekeh.
“Jawab saja!” Diana mulai kesal melihat tingkah Nathan yang kelihatan tidak
serius.
Nathan tertawa. “Kamu penakut, tapi begitu menyeramkan. Bagaimana bisa kamu
tidak takut pada dirimu sendiri?”
“Nathan! Kamu sudah berjanji padaku untuk menceritakan semuanya. Bahkan kamu
berjanji dua kali. DUA KALI Nathan!” Diana mulai kesal.
“Hei, hei.. Nggak bisakah kamu bersabar? Bisa-bisa saat kamu berumur 25 tahun
kulitmu sudah keriput.” Nathan masih santai.
“Aku tidak peduli dengan keriput atau apapun. Kenapa kamu tidak juga menjawab
pertanyaanku?”
Nathan terdiam sejenak. “J.H. memang inisial namaku.” Ucapnya kemudian.
Diana menatap Nathan dengan pandangan kaget. “Jadi puisi-puisi itu benar-benar
ciptaanmu? Wah, hebat….. Kamu menipu banyak orang dengan bicara bahwa kamu
tidak bisa sastra. Hebat sekali kamu Nathan, sampai-sampai aku juga tertipu.”
“Kapan aku bilang aku tidak bisa?”
“Eh?” Diana bingung menjawab. Iya juga ya? Kapan Nathan pernah bilang begitu?
Itu hanya anggapan seisi kelas saja karena Nathan selalu tidak masuk saat jam
pelajaran sastra, batinnya.
“Jadi, kenapa kamu selalu bolos saat jam pelajaran sastra? Kamu orang yang
membingungkan deh.” Komentar Diana.
“Kamu saja yang aneh memikirkan orang membingungkan seperti aku. Jangan bilang
kamu suka padaku? Jangan-jangan setiap detik dalam hidupmu kamu gunakan untuk
memikirkanku ya? Wah.. aku tidak menyangka. Ternyata selama ini kamu bersaing
denganku hanya karena ingin dekat denganku, karena saat bertengkar kamu pasti
bisa melihat wajahku yang tampan. Begitu kan?” Omong Nathan panjang lebar.
Diana menatap Nathan kesal. Bicara apa sih anak ini? Tapi tunggu dulu, dia
hanya ingin mengganti topik, batin Diana mulai menyadari sesuatu.
“Berhentilah Nathan! Kenapa kamu berusaha menghindari pertanyaanku terus?”
protes Diana. Nathan tertawa. “Mengenai pelajaran sastra, aku hanya tidak
suka.” Jawabnya kemudian.
“Mana mungkin? Itu terlalu simple. Kamu kan hebat dalam sastra, kenapa
kamu bisa tidak suka? Jangan berbohong Nathan!”
“Aku tidak berbohong!” tangkis Nathan. “Aku tidak pernah bilang bahwa yang aku
tidak suka adalah sastra.”
“Lalu….” Diana tidak meneruskan kata-katanya. Ia mulai berpikir, ‘Jadi, apa
yang Nathan tidak suka? Jangan bilang…..’ Diana menemukan sebuah jawaban yang
menurutnya sangat mengagetkan.
Sebelum Diana mulai mengungkapkan apa yang ada di pikirannya, Nathan
mengucapkan satu kata. “Ayahku.” Ungkapnya. Diana mulai bingung. Apa yang
dipikirkannya ternyata salah.
“Ini.” Nathan menyodorkan sebuah buku bersampul biru. “Buku ini?” lirih Diana.
“Temukan apa ingin kamu ketahui dari buku ini! Aku lelah menjawab pertanyaanmu
yang tidak ada habisnya.” Kata Nathan kemudian. Tanpa berkomentar, Diana
meneliti buku yang ia pegang sekarang.
Nathan kembali menatap langit selagi mengunggu Diana menemukan jawaban atas
pertanyaan.
“Ahhhhh, anak ini mempermainkanku atau apa? Kenapa aku tak kunjung menemukan
jawaban? Tidak ada yang aneh dengan puisi-puisi ini.” Keluh Diana dalam hati.
Ia menatap Nathan kesal, Nathan menoleh dan pandangan mereka bertemu. “Eh?”
Diana jadi salah tingkah dan pura-pura membersihkan bajunya yang tidak kotor.
Nathan tertawa melihat tingkah aneh Diana.
“Masa sih tidak ada? Pasti ada. Pasti ada!” Pikir Diana. Ia mulai meneliti buku
dari halaman pertama. Dengan ulet ia membuka buku itu halaman demi halaman,
matanya sudah seperti search engine. Dan tepat di lembar ke delapan,
pandangan Diana berhenti. “K.H.?” Lirih Diana.
“Akhirnya kamu menemukannya.” Komentar Nathan. Tapi Diana masih belum menemukan
arti di balik inisial K.H. itu.
“K.H. itu ayahmu?” Tanya Diana.
“Begitulah.” Jawab Nathan santai.
“Sekarang aku penasaran siapa ayahmu. Bisakah kamu memberitahukannya padaku? Di
sini hanya tertulis inisialnya.”
“Kamu
mengenalnya kok.” Nathan memberi clue.
“Kali ini gunakan organ yang ada di dalam kepalamu itu lebih keras lagi!”
jawaban yang tidak diharapakan Diana keluar dari mulut Nathan rupanya. “Huh!”
Diana mendengus kesal.
“Kalau begitu aku harus pecahkan sendiri. Kalau J.H. adalah Jonathan Hairil.
Jadi K.H. adalah ‘sesuatu’ Hairil. Dan orang yang ku kenal dengan nama
belakangan Hairil hanya Nathan. Tunggu! Rasanya aku kenal satu orang lagi yang
bernama belakang Hairil. Tapi siapa ya? Hairil…. Hairil…. Kr…” Diana berpikir
keras, lantas seseorang muncul dibenaknya.
“Kristanto Hairil!” teriak Diana kemudian. Nathan tersenyum.
“Jadi Pak Kris adalah ayahmu?” Tanya Diana cukup kaget. Lagi-lagi Nathan
tersenyum. Ternyata yang tadi ada di pikirannya memang benar, Nathan tidak
masuk jam pelajaran sastra karena Pak Kris. Tapi sekarang ia menemukan fakta
baru bahwa Pak Kris adalah ayahnya Nathan.
“Wahhhh… Kamu benar-benar di luar perkiraan. Semua orang benar-benar telah
ditipu olehmu.” Ucap Diana takjub sambil geleng-geleng kepala.
“Aku tidak berniat untuk membohongi kalian semua, kamu dan yang lainnya tidak
bertanya makanya aku tidak memberitahukan.” Jelas Nathan.
“Tapi kenapa? Kenapa kamu tidak menyukai ayahmu?” lagi-lagi pertanyaan ‘kenapa’
yang Diana tanyakan.
Nathan tertawa. “Aku hanya tidak mau, aku selalu ingin tertawa saat melihatnya
mengajar.”
“Nathan… kamu terlalu simple.” Komentar Diana yang sebenernya agak
kecewa dengan jawaban Nathan yang memang terlalu sederhana untuk semua
pertanyaan kompleksnya. Sekarang sudah tidak ada pertanyaan di kepala Diana,
tepatnya ia sudah malas untuk bertanya lagi.
“Tapi ada satu lagi yang aku sembunyikan.” Ucap Nathan kemudian. Diana menoleh
heran. “Kamu benar-benar pembohong professional Nathan. Kalau begitu
beri tau aku apa rahasia terakhirmu itu!”
Nathan berdiri dari duduknya. Diana reflek ikut berdiri. “Kenapa?” Tanya Diana
heran.
Nathan menatap Diana dalam.
“Rahasiaku yang terakhir… Aku..” ucap Nathan sepotong-sepotong. Diana menelan
ludah, ia merasa sedang menonton sinetron Cinta Fitri Season 7 episode
terakhir. Entah kenapa jantung Diana berdegup kencang. DEG!
Setelah 30 detik menunggu, Nathan membuka mulutnya. Ternyata ia hanya menghela
nafas. Diana makin dekdekan. DEG! DEG!
Barulah 10 detik kemudian Nathan berbicara. “Aku tidak tau apa kamu sudah tau
atau belum, tapi aku adalah orang yang menyebarkan fotomu yang sedang mengupil
2 bulan lalu.” Jawab Nathan polos.
“Eh?”
“Wah, udah mau malam. Ayo kita pulang!” Nathan mengalihkan pembicaraan dan
mulai melangkahkan kaki meninggalkan Diana yang ternganga. Beberapa detik
kemudian Diana baru sadar bahwa Nathan sudah berada jauh di depannya. “Jonathan
Hairil! AWAS KAMU!” teriak Diana.
-FLASH BACK-
8 Desember 2005
“Diana, kamu benar mau pergi?” ucap
Nathan pelan sambil terisak. Diana bersembunyi di balik tubuh ibunya. “Maaf,
Nathan aku tidak mau. Tapi… aku harus ikut ayah dan bunda.” Diana menangis
cukup keras.
Nathan menghampiri Diana.
“Terima kasih udah jadi teman pertamaku Nanti kalau sudah besar, kita pasti
ketemu. Dan aku tidak akan membiarkanmu untuk pergi lagi.” Nathan menatap Diana
dalam. Sambil menyeka pipinya Diana mengangguk pelan.
-FLASH BACK END-
Diana marah besar tetapi Nathan malah tersenyum manis, sangat manis. Ia mulai
berlari sambil tertawa lepas, Diana mengejarnya dan ikut tertawa juga.
“Akhirnya kami akan selalu menjadi rival, menjadi rival untuk bersama, aku rasa
itu tidak buruk, yang penting aku menepati janjiku untuk selalu bersamanya. Dia
tidak akan menyadari bahwa puisi pertama yang aku tulis di buku itu adalah
untuknya. Dia tidak akan menyadari bahwa alasanku masuk ke sekolah ini adalah
untuknya. Dia tidak akan menyadari rahasia terakhirku. I LOVE HER A BIT, FOR A
VERY LONG TIME.” Batin Nathan.
~TAMAT~