Tikus Pengerat
Mengoreh-ngoreh tumpukan sampah.
Berharap bisa menemukan sebutir nasi.
Sesuai dengan apa yang meraka katakan.
Berjalan disepanjang gorong-gorong.
Berharap ada lahan untuk ditempati.
Seperti yang mereka janjikan.
Namun yang ditemukan hanyalah duri
Yang menusuk kaki yang tak bersandal.
Kami tersenyum kepada mereka.
Kami selalu mendambakan mereka.
Menunggu kehadiran mereka. tapi
Kami menangis, kami tertawa, pedulikah mereka?
Tidak
Dimana kalian?
Apa yang kalian lakukan?
Ketika nadi nadi kami menjerit meminta bantuan kalian
Kalian hanya duduk dan
berkata “kami akan berusaha”
Melihat manusia yang duduk diatas sana
Yang memakai pakaian dari kulit kami dan
Menggunakan bebauan dari darah kami
sembari memegangi perut mereka yang buncit karena
Memakan daging kami.
Ku hanya tersenyum dan bertanya
Layak kah yang seperti itu dikatakan manusia?
Lebih tepatnya Tikus Pengerat
(Citra Lestari/Miks)
Sebuah lagu
Begitulah kau
menyapaku
Lunak dan
merdu bagai suara angin menggetarkan pepohonan
Malam yang
turun sarat cahaya bulan
Bagai matamu
tanpa kabut dukacita
Nyanyian yang
kau lantunkan
Membangun
jembatan yang diledakan kesepian dalam hatiku
Disanalah kau
Menanggalkan
keyakinanku yang busuk
Tanganmu
sungguh lembut sarat cahaya
Dengan mata
terpejam aku lukis
Hasratku
menyongsong
Kelahiran baru
bersamamu.
(Citra Lestari/Miks)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar