Jumat, 05 April 2013

Tikus Pengerat



Mengoreh-ngoreh tumpukan sampah.
Berharap bisa menemukan sebutir nasi.
Sesuai dengan apa yang meraka katakan.
Berjalan disepanjang gorong-gorong.
Berharap ada lahan untuk ditempati.
Seperti yang mereka janjikan.
Namun yang ditemukan hanyalah duri
Yang menusuk kaki yang tak bersandal.

Kami tersenyum kepada mereka.
Kami selalu mendambakan mereka.
Menunggu kehadiran mereka.  tapi
Kami menangis, kami tertawa, pedulikah mereka?
Tidak
Dimana kalian?
Apa yang kalian lakukan?
Ketika nadi nadi kami menjerit meminta bantuan kalian
Kalian hanya duduk dan
berkata “kami akan berusaha”

Melihat manusia yang duduk diatas sana
Yang memakai pakaian dari kulit kami dan
Menggunakan bebauan dari darah kami
sembari memegangi perut mereka yang buncit karena
Memakan daging kami.
Ku hanya tersenyum dan bertanya
Layak kah yang seperti itu dikatakan manusia?
Lebih tepatnya Tikus Pengerat

                                    Team Jurnalis, Citra Lestari

Sebuah lagu



Begitulah kau menyapaku
Lunak dan merdu bagai suara angin menggetarkan pepohonan
Malam yang turun sarat cahaya bulan
Bagai matamu tanpa kabut dukacita
Nyanyian yang kau lantunkan
Membangun jembatan yang diledakan kesepian dalam hatiku
Disanalah kau
Menanggalkan keyakinanku yang busuk
Tanganmu sungguh lembut sarat cahaya
Dengan mata terpejam aku lukis
Hasratku menyongsong
Kelahiran baru bersamamu.
                                                                                          (Citra Lestari/Miks)